Drama
Never on Wednesday Karya Richard A. Via
T E M A
Tema
utamanya yakni kejutan ( Surprise ) dan kebahagiaan atau keharmonisan suatu
keluarga. Drama ini menceritakan bagaimana Fred ingin memberi kejutan kepada
keluarganya dengan menjemput sang nenek di stasiun. Tema keharmonisan keluarga
tampaknya juga mendapat tempat dalam drama ini dan hal ini bisa dirasakan
langsung dalam keluarga Mr. & Mrs. Paul.
A L U R
Alur
drama ini merupakan alur maju yakni menceritakan kejadian atau situasi mulai
dari awal sampai akhir. Diawali dengan perbincangan antara orang tua dan ketiga
anaknya hingga akhirnya keberangkatan ketiga anak mereka menjemput sang nenek
di stasiun.
S E T T I N G
Setting
drama ini yakni di sebuah ruang keluarga yang umumnya dapat dijumpai di rumah-rumah
orang Amerika.
K A R A K T E R
AYAH
( MR. Paul) :
digambarkan sebagai sesosok ayah berusia 40-45 tahun yang tegas dan
bertanggungjawab terhadap keluarga terutama dalam memberi perhatian terhadap
anak-anaknya. Selain itu sosoknya juga teguh dalam memegang prinsip (principle
man). Ia juga memiliki sifat bijaksana dan tidak mudah terpengaruh oleh alasan
apapun dalam mengambil keputusan. Ia tidak ingin menjadi orang tua yang senang
memanjakan anak.
IBU
(MRS. Paul) :
merupakan sosok ibu berusia sekitar 38-40 tahun yang memiliki sifat penyayang,
mampu menjadi penengah konflik (mediator) antara ayah dan anak-anaknya dan ia
juga memiliki ide-ide yang bagus/menarik. Menariknya ia juga memiliki sifat
humoris. Ia juga kadang bertindak layaknya seorang komandan dalam mengontrol
keadaan keluarganya terutama ketiga anaknya.
FRED : adalah anak pertama Mr. & Mrs.
Paul yang telah berusia 17 tahun. Ia adalah seorang pemuda yang berpikiran
dewasa dan penyabar serta baik hati. Fred juga termasuk seorang pemuda yang
rajin belajar dan berbakti kepada orang tua.
DOROTHY
( DOT) : merupakan
anak kedua dari Mr. & Mrs. Paul dan berusia 16 tahun. Dot merupakan gadis
remaja yang amat memperhatikan penampilan kesehariannya terutama kecantikannya.
Sayangnya meski cantik, ia senang mengganggu kesenangan orang lain atau berbuat
usil.
TOM
: anak ketiga Mr.
& Mrs. Paul yang telah berusia 14 tahun. Sebagai anak bungsu tidak
mengherankan sifatnya terkadang amat manja dan juga senang mengganggu atau
berbuat usil. Meski demikian, menariknya karena ia merupakan seorang kutu buku.
PLOT
Drama
ini dimulai dengan suara deringan telepon yang berada di dekat Dorothy (Dot)
dan Fred. Keduanya dengan cepat melompat karena ingin menjadi yang lebih dahulu
mengangkat telepon tersebut karena masing-masing beranggapan bahwa telepon
tersebut pastilah untuk salah satu dari mereka. Fred mengira bahwa telepon itu
berasal dari teman wanitanya dan begitu pula dengan Dot yang menyangka bahwa
telpon tersebut dari teman prianya (pacarnya). Karena Fred yang berada paling
dekat dengan telepon itu maka ia berhasil mendapatkannya.
Fred
yang sangat gembira setelah menerima telpon itu lalu mendekati ayahnya yang
sedang asyik membaca koran. Fred lalu memohon kepada ayahnya agar diberi izin
untuk memakai mobil malam itu. Ketika Fred berusaha membujuk ayahnya, Dot dan
Tom menyela karena tidak setuju bila ayahnya memberi izin kepada Fred untuk
memakai mobil itu. Mereka menganggap bahwa Fred akan menggunakan mobil itu
untuk bersenang-senang atau berkencan dengan pacarnya yang baru saja
menelponnya. Saat itulah sang ibu (Mrs. Paul) datang dan menengahi perseteruan
mereka. Sang ibu berhasil meredakan ketegangan di antara anak-anaknya
begitupula dengan sang ayah.
Fred
berharap ibunya itu dapat membantunya untuk membujuk sang ayah agar diizinkan
menggunakan mobil malam itu juga. Namun dengan tetap berpura-pura sibuk membaca
koran, ayahnya tetap bersikeras untuk tidak memberikan izin kepadanya karena
berdasarkan kesepakatan dalam keluarga mereka bahwa selain hari Jum’at, Sabtu
dan minggu sore, maka mobil tidak boleh digunakan. Hal ini diingatkan pula oleh
Dot karena hari ini adalah hari Rabu.
Sang
ibu lalu meminta penjelasan Fred mengenai alasan putranya itu untuk memakai
mobil hari itu. Namun Fred berusaha menyembunyikan maksud yang sebenarnya
karena itu merupakan alasan pribadi yang ingin ia rahasiakan.
Mendengar
hal itu kedua adiknya tetap protes sembari memaki-maki kakaknya yang dianggap
egois. Mereka tetap memprotes keinginan keras Fred yang ingin memakai mobil itu
malam ini juga. Sementara itu ibu mereka masih terus berusaha membujuk sang
ayah agar bersedia mengizinkan Fred memakai mobil. Namun sang ayah mengatakan
bahwa yang namanya peraturan tetaplah peraturan dan harus dipatuhi.
Fred
tak mau menyerah dan ia terus membujuk agar sang ayah mengijinkannya memakai
mobil malam itu dengan alasan bahwa ia hendak memberi mereka sebuah kejutan.
Sementara itu sang ibu masih merasa curiga bahwa Fred akan menggunakan mobil
itu untuk berkencan apalagi kedua adiknya yang bernama Tom juga berceloteh
bahwa Fred akan membawa mobil itu untuk menonton di bioskop bersama seorang
gadis yang merupakan pacar barunya.
Fred
pun lalu mencoba memberi alasan kepada ibunya bahwa ia tidak akan pergi
berkencan bersama pacarnya seperti yang disangkakan oleh kedua adiknya. Fred
mengancam akan naik taksi jika tetap tidak diizinkan menggunakan mobil
tersebut. Sang ayah protes karena ia yakin bahwa menggunakan jasa taksi sangat
mahal. Karena itu sang ayah lalu kembali bertanya seberapa pentingya mobil itu
bagi Fred malam-malam begini. Sang ibu mencoba membantu Fred dengan mengatakan
bahwa alasan Fred bersifat rahasia.
Tak
tahan dengan celoteh kedua adiknya yang terus memanas-manasi sang ayah agar
tidak memberinya izin, Fred pun akhirnya berterus terang kepada mereka semua
bahwa ia akan menggunakan mobil itu untuk menjemput sang nenek di Stasiun. Jadi
yang menelpon tadi adalah nenek mereka sendiri juga. Dan Fred mengatakan bahwa
saat itu sang nenek sebenarnya sudah berada di stasiun sehingga ia harus segera
menjemputnya. Sang nenek bahkan menelpon untuk memberitahu bahwa ia hendak naik
taksi ke rumah mereka.
Mendengar
hal itu mereka semua yang ada di ruang keluarga itu menjadi sangat terkejut dan
menyayangkan mengapa Fred tidak langsung berterus terang saja sejak awal
sehingga tidak perlu ada keributan kecil dalam keluarga mereka. Fred pun
menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud apa-apa kecuali ingin memberikan kejutan
kepada mereka semua.
Akhirnya,
mereka sekeluarga bahagia dan girang karena akan kedatangan nenek mereka. Kedua
adik Fred pun menghentikan kesibukan belajar mereka saat itu juga lalu bergegas
mempersiapkan diri untuk ikut bersama kakak mereka untuk menjemput sang nenek.
Sang ibu mulanya menegur Tom agar mengerjakan saja PR-nya. Namun Tom keburu menutup
bukunya dan mengatakan bahwa ia akan mengerjakannya nanti setelah menjemput
nenek mereka. Sang ibu yang gembira pun menyuruh agar Fred segera bergegas
menjemput nenek mereka. Tentu saja sang ayah memberi izin kepada Fred untuk
memakai mobil malam itu juga dan berpesan agar Fred berhati-hati mengemudi di
jalan raya.
Saat
ketiga anak mereka berangkat menjemput sang nenek, sang ayah dan ibu pun mulai
mempersiapkan diri dengan merapikan dan menata ruang tamu serta mempersiapkan
makanan istimewa untuk menyambut kedatangan sang nenek tersebut.
Dalam
dialog akhir sang ibu merasa heran mengapa sang nenek tidak mengabarkan
terlebih dahulu bahwa dia akan datang padahal dengan demikian ia bisa
mempersiapkan segala sesuatunya. Mr. Paul lalu menerka-nerka mungkin nenek
tidak ingin membuat mereka menjadi sibuk mempersiapkan kedatangannya sehingga
tidak memberitahu Mrs. Paul. Hal ini membuat Mrs. Paul merasa penasaran dan
ingin tahu ada apa sebenarnya.
1. KESIMPULAN
Never
on Wednesday merupakan sebuah drama yang sangat menarik untuk dianalisa. Drama
merupakan drama situasi komedi yang merefleksikan kehidupan sehari-hari
masyarakat tradisional Amerika. Salah satu isu yang paling menarik dari drama
ini yaitu perihal generasi muda dari sisi positif. Peran atau keberadaan ketiga
anak Mr. dan Mrs. Paul mampu menghadirkan kedinamisan dalam keluarga berkat
kehalusan tata cara mereka dalam berargumentasi sehingga kehidupan keluarga
mereka tidak membosankan.
Kisah
dalam drama singkat ini mungkin dewasa ini sudah terbilang langka terutama
dalam masyarakat Indonesia. Keharmonisan keluarga yang tercapai berkat
kesabaran dan juga kebijaksanaan dalam mengambil keputusan maupun alur berpikir
dari masing-masing karakter seyogyanya dapat dijadikan contoh dalam kehidupan
keluarga kita sehari-hari. Sayang sekali, pemuda yang memiliki perangai seperti
Fred dan saudara-saudaranya sudah sulit ditemui di kehidupan nyata kita
sekarang ini. Dewasa ini para pemuda atau remaja yang kita lebih banyak yang
tingkahnya sering menyusahkan orang tua karena senang berfoya-foya atau malah
sering bertengkar sesama saudara mereka. Selain itu orang tua yang bijak dan
tegas pun rasanya sudah ikut menjadi makhluk yang langka pula. Drama ini
mengajarkan pula tentang kedisiplinan, baik itu menyangkut hal-hal kecil
seperti waktu belajar maupun aturan tak tertulis yang telah disepakati bersama
dalam suatu keluarga. Singkatnya untuk menjalin suatu keharmonisan keluarga
yang dinamis mutlak diperlukan hal-hal seperti sifat bijaksana, penyabar,
tegas, senang berbuat baik dan disiplin.
Secara
keseluruhan dialog dalam drama ini mudah dicerna karena berlandaskan keadaan
kehidupan sehari-hari dan juga bersifat jenaka atau mengandung humor sehingga
dapat mengusir kebosanan.